H. Mutahar, Sang Pencipta Lagu Hari Merdeka
Mutahar kecilSetiap tahun apabila kita merayakan Hari Ulang Tahun
Kemerdekaan Republik Indonesia sudah bisa dipastikan bahwa kita akan sering
mendengar Lagu Hari Merdeka yang diciptakan oleh Bapak Husein Mutahar (Alm)
yang dinyanyikan baik itu oleh anak-anak, maupun orang dewasa.
Sekilas cerita tentang terciptanya Lagu Hari Merdeka yang sering
diperdengarkan pada saat Aubade HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, menurut
pengakuan beliau sendiri, diciptakan di dalam toilet Hotel Garuda
Yogyakarta. Ketika itu ia sekamar dengan Hugeng yang kemudian menjadi Kepala
Polri, dimana pada saat itu sedang bersama-sama mengawal Bung Karno. Hugeng
kebingungan mencarikan kertas dan pulpen karena Mutahar tergopoh-gopoh
hendak menuangkan gagasannya ke atas kertas. Selanjutnya, karya cipta
lainnya dari H. Mutahar yang cukup dikenal adalah lagu SYUKUR. Menurut
beliau, lagu Syukur ini diciptakan pada tahun 1944, adalah sebuah puji
syukur yang dipersiapkannya untuk menyambut Kemerdekaan RI yang ketika itu
diduganya sudah hampir tercapai.
Namun dibalik lagu itu, tahukah anda siapa tokoh pencipta lagu tersebut ?
Disini saya mencoba untuk menuliskan sedikit tentang beliau yang saya
ketahui selama saya mengenal beliau.
Hs. Mutahar saya kenal dari kak Idik Sulaeman. Hingga dalam perjalanan
mengenal beliau saya menjadi sangat dekat, terkadang kita begadang untuk
berdiskusi tentang segala hal. Saya yang tadinya tidak suka lagu Klasik
akhirnya menjadi sangat suka karena beliau. Kedekatan saya dengan kak Hs.
Mutahar hingga saya mengganggap beliau adalah eyang saya sendiri, makanya
saya selalu memanggil beliau dengan eyang. Banyak sekali yang saya dapatkan
mengenai kehidupan dan karakter kepribadian dari beliau dan itu sangat
menempel dalam diri saya.
Mungkin sebagian besar dari kita tidak banyak mengenal beliau, atau mengenal
sebatas ia adalah seorang pencipta lagu. Dibalik itu semua belai mempunyai
jasa yang besar untuk Republik Indonesia ini. Mari kita mengenal beliau
lebih dalam lagi.
Bapak Husein Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus
1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere
School atau sama dengan SD Eropa selama 7 tahun) , kemudian dilanjutkan ke
MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dengan SMP selama 3 tahun)
dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dengan SMA
selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta.
kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil
Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa jawa Kuno
namun perkuliahan nya hanya 2 tahun karena selanjutnya drop out (DO) karena
harus ikut berjuang.
Kemudian tentang riwayat pekerjaan beliau antara lain adalah :
1. Guru Bahasa Belanda di SD Islam swasta di Pekalongan,
2. Wartawan berita kota dari Surat Kabar berbahasa Belanda "Het Noorden
" di Semarang tahun 1938,
3. Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor Noord Midden
Java, Departement Ekonomische Zaken, 1939-1942
4. Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa
Tengah, 1943.
5. Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di
Semarang, 1943-1948.
6. Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia, 1945-1946.
7. Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik Indonesia
1946-1948.
8. Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, 1969 - 1979.
9. Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai
Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K,
1966-1968.
10. Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di
Vatikan, 1969-1973.
11. Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara,
1973-1974
12. InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan,
merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap
Kepala Protokol Negara, 1974.
13. Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IVe.
Dalam kehidupan ber-Organisasi pengalaman beliau adalah sbb :
1. Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969
2. Anggota Partai Politik, 1938 - 1942
3. Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman,
penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, dan sebagai
gerakan penyebaran semangat melawan Jepang dan kamuflase gerakan subversi
melawan Jepang, 1942-1945
4. Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang,
1945.
5. Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945.
6. Anggota redaksi majalah "Revolusi Pemuda", 1945-1946.
7. Gerilya, 1948-1949
8. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian
menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan
Nasional Indonesia "Pandu Rakyat Indonesia", 28-12-1945 s.d. 20-5-1961
9. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai
anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan
Latihan, 1961-1969
10. Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka,
1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.
Beberapa kisah perjuangan beliau yang jarang diketahui adalah:
Beberapa hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, Presiden
Soekarno memberi tugas kepada salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar,
untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus
1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
Mutahar, yang dikenal punya rasa kebangsaan sangat kental (ditandai dengan
lagu-lagu ciptaannya seperti Hari Merdeka dan Syukur), segera memenuhi
permintaan Bung Karno. Acara pun disusun satu persatu, mulai dari pembacaan
naskah Proklamasi. Namun, tiba-tiba Mutahar teringat akan sesuatu. Menurut
dia, rasa cinta Tanah Air, persatuan dan kesatuan bangsa wajib dilestarikan
kepada generasi penerus. "Tapi, simbol-simbol apa yang bisa digunakan?"
Melalui materi yang akan dipakai pada upacara itu, Mutahar memilih
pengibaran bendera (pusaka). Dalam benaknya, pengibaran lambang negara itu
memang sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia (seperti juga pada
tahun 1945).
Tanpa buang waktu, ditunjuknya lima pemuda (terdiri dari tiga putri dan dua
putra) untuk menjadi pelaksana pengibaran bendera. Lima orang itu, dalam
pikiran Mutahar adalah simbol dari Pancasila. Salah satu pengibar bendera
pusaka pada 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi, pelajar SMA asal Sumatera
Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta.
Dari pengalaman pertama tahun 1946 itu, Mutahar menganggap apa yang
dilakukannya sudah tepat. Bung Karno pun tidak memprotes keputusan yang
diambil Mutahar untuk menyerahkan tugas pengibaran bendera pusaka kepada
para pemuda. Berturut-turut, pada tahun 1947 dan 1948, pengibaran bendera
oleh lima pemuda asal berbagai daerah itu terus dilestarikan.
Pada akhir tahun 1948 Bung Karno serta beberapa Pemimpin sempat ditangkap
Belanda dan diasingkan ke Parapat (Sumatera Utara), lalu dipindahkan ke
Muntok (Bangka). Saat itu, bendera pusaka sempat diselamatkan oleh Husein
Mutahar dari sitaan Belanda, bahkan dikirimkan ke Bangka dengan cara yang
rumit dan sulit.
Tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke
Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17
Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden
Gedung Agung Yogyakarta.
Seusai penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan lndonesia pada 27
Desember 1949 di Den Haag (Konferensi Meja Bundar), Ibukota Republik
Indonesia dikembalikan ke Jakarta. Pada 17 Agustus 1950, pengibaran bendera
pusaka dilaksanakan di halaman Istana Merdeka Jakarta. Husein Mutahar tidak
lagi terlibat, karena regu-regu pengibar bendera pusaka diatur oleh Rumah
Tangga Kepresidenan RI. Pada kurun waktu tersebut, pada pengibar kebanyakan
diambil dari unsur pelajar atau mahasiswa yang ada di Jakarta.
Tahun 1966, Kak Mutahar mendapat jabatan sebagai Direktur Jenderal Urusan
Pemuda dan Pramuka di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itulah, ia
kembali ingat dengan gagasannya tahun 1946.
Dari sana Kak Mutahar dan Ditjen Udaka melakukan latihan dengan nama "
Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber- Pancasila" yang sempat diujikan pada tahun
1966 dan 1967. kurikulum uji coba "Pasukan Penggerak Bendera Pusaka"
dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari Pramuka
Penegak yang berasal dari beberapa Gudep di Jakarta.
Kekhasan latihan itu adalah konsep pelatihan dengan menggunakan metode
"Keluarga Bahagia" dan diterapkan secara nyata dalam konsep " Desa Bahagia".
Di desa itu, para peserta latihan di ajak berperan serta dalam menghayati
kehidupan sehari- hari yang menggambarkan penghayatan dan pengamalan
Pancasila.
Tahun 1967, Husein Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk diminta
pendapat dan menangani masa-masa pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi
Kak Mutahar, ibarat mendapat "durian runtuh" karena ia bisa melanjutkan
gagasannya membentuk pasukan pengibar bendera pusaka yang terdiri dari para
pemuda.
Kak Mutahar lalu kembali menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran
bendera pusaka. Formasi tersebut terdiri dari tiga kelompok yakni kelompok
17 (Pengiring/ Pemandu), kelompok 8 (Pembawa/ Inti), dan kelompok 45
(Pengawal). Formasi tersebut merupakan simbol dari hari kemerdekaan RI
(17-6-45).
Kak Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda
utusan daerah dalam gagasannya. Ketika itu, belum mungkin dihadapkan
pemuda-pemuda yang langsung berasal dari daerah. Kak Mutahar kemudian
mendatangkan pemuda- pemuda daerah yang ada di Jakarta. Sedangkan formasi 45
diisi oleh Pasukan Pengawal Presiden (sekarang Paspampres) setelah usaha
mendatangkan para taruna AKABRI mengalami kendala.
Tanggal 17 Agustus 1968 kemudian pasukan khusus terwujud dengan melibatkan
pemuda daerah yang sesungguhnya. Pemuda-pemuda tersebut adalah utusan dari
daerah langsung.
Selama kurun waktu dari tahun 1967 hingga tahun 1972, bendera pusaka
dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan "Pasukan Penggerak
Bendera". Tahun 1973, Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Pengembangan dan
Latihan P&K dan membantu Kak Husein Mutahar dalam pembinaan latihan
melontarkan gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.
Kak Mutahar yang tak lain adalah mantan Pembina Penegak Idik Sulaeman di
Gerakan Pramuka Setuju. Maka, kemudian meluncurlah nama antik berbentuk
akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutkan:
PASKIBRAKA: singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
Kak Idik Sulaeman memang yang memberi nama Paskibraka. Tapi,hakekatnya, kak
Mutahar-lah yang menggagas Paskibraka sehingga beliau pantas dijuluki "Bapak
Paskibraka"
Kak Husein Mutahar kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada
usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan
Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas
jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang
Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 - 1949 tetapi
Beliau tidak mau dan kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk
Purut, Jakarta Selatan.
Kematian beliau sangat memukul saya, begitu sedihnya saya saat itu. Sore itu
sekitar pukul 17.00 saya pulang kantor, Kak Idik menelpon saya, beliau
berkata, "Hen, Eyang sudah tidak ada tadi pukul 16.30", sontak langsung
lemas badan saya, saya lanjutkan perjalanan sampai kerumah karena sudah
tidak terlalu jauh dari rumah, sesampai dirumah sy hanya sempat ganti baju,
dan pamitan ke istri langsung berangkat ke rumah duka di Jln. Damai No.20
Cipete, Jakarta Selatan.
* Dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa Eyang, Kakak Hs. Mutahar oleh
adikmu Hendry Risjawan
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita
Mutahar kecilSetiap tahun apabila kita merayakan Hari Ulang Tahun
Kemerdekaan Republik Indonesia sudah bisa dipastikan bahwa kita akan sering
mendengar Lagu Hari Merdeka yang diciptakan oleh Bapak Husein Mutahar (Alm)
yang dinyanyikan baik itu oleh anak-anak, maupun orang dewasa.
Sekilas cerita tentang terciptanya Lagu Hari Merdeka yang sering
diperdengarkan pada saat Aubade HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, menurut
pengakuan beliau sendiri, diciptakan di dalam toilet Hotel Garuda
Yogyakarta. Ketika itu ia sekamar dengan Hugeng yang kemudian menjadi Kepala
Polri, dimana pada saat itu sedang bersama-sama mengawal Bung Karno. Hugeng
kebingungan mencarikan kertas dan pulpen karena Mutahar tergopoh-gopoh
hendak menuangkan gagasannya ke atas kertas. Selanjutnya, karya cipta
lainnya dari H. Mutahar yang cukup dikenal adalah lagu SYUKUR. Menurut
beliau, lagu Syukur ini diciptakan pada tahun 1944, adalah sebuah puji
syukur yang dipersiapkannya untuk menyambut Kemerdekaan RI yang ketika itu
diduganya sudah hampir tercapai.
Namun dibalik lagu itu, tahukah anda siapa tokoh pencipta lagu tersebut ?
Disini saya mencoba untuk menuliskan sedikit tentang beliau yang saya
ketahui selama saya mengenal beliau.
Hs. Mutahar saya kenal dari kak Idik Sulaeman. Hingga dalam perjalanan
mengenal beliau saya menjadi sangat dekat, terkadang kita begadang untuk
berdiskusi tentang segala hal. Saya yang tadinya tidak suka lagu Klasik
akhirnya menjadi sangat suka karena beliau. Kedekatan saya dengan kak Hs.
Mutahar hingga saya mengganggap beliau adalah eyang saya sendiri, makanya
saya selalu memanggil beliau dengan eyang. Banyak sekali yang saya dapatkan
mengenai kehidupan dan karakter kepribadian dari beliau dan itu sangat
menempel dalam diri saya.
Mungkin sebagian besar dari kita tidak banyak mengenal beliau, atau mengenal
sebatas ia adalah seorang pencipta lagu. Dibalik itu semua belai mempunyai
jasa yang besar untuk Republik Indonesia ini. Mari kita mengenal beliau
lebih dalam lagi.
Bapak Husein Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus
1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere
School atau sama dengan SD Eropa selama 7 tahun) , kemudian dilanjutkan ke
MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dengan SMP selama 3 tahun)
dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dengan SMA
selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta.
kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil
Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa jawa Kuno
namun perkuliahan nya hanya 2 tahun karena selanjutnya drop out (DO) karena
harus ikut berjuang.
Kemudian tentang riwayat pekerjaan beliau antara lain adalah :
1. Guru Bahasa Belanda di SD Islam swasta di Pekalongan,
2. Wartawan berita kota dari Surat Kabar berbahasa Belanda "Het Noorden
" di Semarang tahun 1938,
3. Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor Noord Midden
Java, Departement Ekonomische Zaken, 1939-1942
4. Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa
Tengah, 1943.
5. Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di
Semarang, 1943-1948.
6. Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia, 1945-1946.
7. Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik Indonesia
1946-1948.
8. Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, 1969 - 1979.
9. Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai
Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K,
1966-1968.
10. Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di
Vatikan, 1969-1973.
11. Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara,
1973-1974
12. InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan,
merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap
Kepala Protokol Negara, 1974.
13. Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IVe.
Dalam kehidupan ber-Organisasi pengalaman beliau adalah sbb :
1. Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969
2. Anggota Partai Politik, 1938 - 1942
3. Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman,
penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, dan sebagai
gerakan penyebaran semangat melawan Jepang dan kamuflase gerakan subversi
melawan Jepang, 1942-1945
4. Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang,
1945.
5. Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945.
6. Anggota redaksi majalah "Revolusi Pemuda", 1945-1946.
7. Gerilya, 1948-1949
8. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian
menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan
Nasional Indonesia "Pandu Rakyat Indonesia", 28-12-1945 s.d. 20-5-1961
9. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai
anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan
Latihan, 1961-1969
10. Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka,
1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.
Beberapa kisah perjuangan beliau yang jarang diketahui adalah:
Beberapa hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, Presiden
Soekarno memberi tugas kepada salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar,
untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus
1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
Mutahar, yang dikenal punya rasa kebangsaan sangat kental (ditandai dengan
lagu-lagu ciptaannya seperti Hari Merdeka dan Syukur), segera memenuhi
permintaan Bung Karno. Acara pun disusun satu persatu, mulai dari pembacaan
naskah Proklamasi. Namun, tiba-tiba Mutahar teringat akan sesuatu. Menurut
dia, rasa cinta Tanah Air, persatuan dan kesatuan bangsa wajib dilestarikan
kepada generasi penerus. "Tapi, simbol-simbol apa yang bisa digunakan?"
Melalui materi yang akan dipakai pada upacara itu, Mutahar memilih
pengibaran bendera (pusaka). Dalam benaknya, pengibaran lambang negara itu
memang sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia (seperti juga pada
tahun 1945).
Tanpa buang waktu, ditunjuknya lima pemuda (terdiri dari tiga putri dan dua
putra) untuk menjadi pelaksana pengibaran bendera. Lima orang itu, dalam
pikiran Mutahar adalah simbol dari Pancasila. Salah satu pengibar bendera
pusaka pada 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi, pelajar SMA asal Sumatera
Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta.
Dari pengalaman pertama tahun 1946 itu, Mutahar menganggap apa yang
dilakukannya sudah tepat. Bung Karno pun tidak memprotes keputusan yang
diambil Mutahar untuk menyerahkan tugas pengibaran bendera pusaka kepada
para pemuda. Berturut-turut, pada tahun 1947 dan 1948, pengibaran bendera
oleh lima pemuda asal berbagai daerah itu terus dilestarikan.
Pada akhir tahun 1948 Bung Karno serta beberapa Pemimpin sempat ditangkap
Belanda dan diasingkan ke Parapat (Sumatera Utara), lalu dipindahkan ke
Muntok (Bangka). Saat itu, bendera pusaka sempat diselamatkan oleh Husein
Mutahar dari sitaan Belanda, bahkan dikirimkan ke Bangka dengan cara yang
rumit dan sulit.
Tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke
Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17
Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden
Gedung Agung Yogyakarta.
Seusai penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan lndonesia pada 27
Desember 1949 di Den Haag (Konferensi Meja Bundar), Ibukota Republik
Indonesia dikembalikan ke Jakarta. Pada 17 Agustus 1950, pengibaran bendera
pusaka dilaksanakan di halaman Istana Merdeka Jakarta. Husein Mutahar tidak
lagi terlibat, karena regu-regu pengibar bendera pusaka diatur oleh Rumah
Tangga Kepresidenan RI. Pada kurun waktu tersebut, pada pengibar kebanyakan
diambil dari unsur pelajar atau mahasiswa yang ada di Jakarta.
Tahun 1966, Kak Mutahar mendapat jabatan sebagai Direktur Jenderal Urusan
Pemuda dan Pramuka di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itulah, ia
kembali ingat dengan gagasannya tahun 1946.
Dari sana Kak Mutahar dan Ditjen Udaka melakukan latihan dengan nama "
Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber- Pancasila" yang sempat diujikan pada tahun
1966 dan 1967. kurikulum uji coba "Pasukan Penggerak Bendera Pusaka"
dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari Pramuka
Penegak yang berasal dari beberapa Gudep di Jakarta.
Kekhasan latihan itu adalah konsep pelatihan dengan menggunakan metode
"Keluarga Bahagia" dan diterapkan secara nyata dalam konsep " Desa Bahagia".
Di desa itu, para peserta latihan di ajak berperan serta dalam menghayati
kehidupan sehari- hari yang menggambarkan penghayatan dan pengamalan
Pancasila.
Tahun 1967, Husein Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk diminta
pendapat dan menangani masa-masa pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi
Kak Mutahar, ibarat mendapat "durian runtuh" karena ia bisa melanjutkan
gagasannya membentuk pasukan pengibar bendera pusaka yang terdiri dari para
pemuda.
Kak Mutahar lalu kembali menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran
bendera pusaka. Formasi tersebut terdiri dari tiga kelompok yakni kelompok
17 (Pengiring/ Pemandu), kelompok 8 (Pembawa/ Inti), dan kelompok 45
(Pengawal). Formasi tersebut merupakan simbol dari hari kemerdekaan RI
(17-6-45).
Kak Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda
utusan daerah dalam gagasannya. Ketika itu, belum mungkin dihadapkan
pemuda-pemuda yang langsung berasal dari daerah. Kak Mutahar kemudian
mendatangkan pemuda- pemuda daerah yang ada di Jakarta. Sedangkan formasi 45
diisi oleh Pasukan Pengawal Presiden (sekarang Paspampres) setelah usaha
mendatangkan para taruna AKABRI mengalami kendala.
Tanggal 17 Agustus 1968 kemudian pasukan khusus terwujud dengan melibatkan
pemuda daerah yang sesungguhnya. Pemuda-pemuda tersebut adalah utusan dari
daerah langsung.
Selama kurun waktu dari tahun 1967 hingga tahun 1972, bendera pusaka
dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan "Pasukan Penggerak
Bendera". Tahun 1973, Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Pengembangan dan
Latihan P&K dan membantu Kak Husein Mutahar dalam pembinaan latihan
melontarkan gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.
Kak Mutahar yang tak lain adalah mantan Pembina Penegak Idik Sulaeman di
Gerakan Pramuka Setuju. Maka, kemudian meluncurlah nama antik berbentuk
akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutkan:
PASKIBRAKA: singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
Kak Idik Sulaeman memang yang memberi nama Paskibraka. Tapi,hakekatnya, kak
Mutahar-lah yang menggagas Paskibraka sehingga beliau pantas dijuluki "Bapak
Paskibraka"
Kak Husein Mutahar kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada
usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan
Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas
jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang
Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 - 1949 tetapi
Beliau tidak mau dan kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk
Purut, Jakarta Selatan.
Kematian beliau sangat memukul saya, begitu sedihnya saya saat itu. Sore itu
sekitar pukul 17.00 saya pulang kantor, Kak Idik menelpon saya, beliau
berkata, "Hen, Eyang sudah tidak ada tadi pukul 16.30", sontak langsung
lemas badan saya, saya lanjutkan perjalanan sampai kerumah karena sudah
tidak terlalu jauh dari rumah, sesampai dirumah sy hanya sempat ganti baju,
dan pamitan ke istri langsung berangkat ke rumah duka di Jln. Damai No.20
Cipete, Jakarta Selatan.
* Dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa Eyang, Kakak Hs. Mutahar oleh
adikmu Hendry Risjawan
Lirik Lagu H. Mutahar Hari Merdeka (17 Agustus 1945)
Tujuh belas agustus tahun empat limaItulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita








0 comments:
Post a Comment