Your IP address

IP

Tuesday, May 24, 2011

→ Asal Mula Kolam Sampuraga

| |


    Alkisah, pada  zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Meskipun  hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup  sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik  orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya  yang suka kepada mereka.

Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya  beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan  tidak ada jarak antara majikan dan buruh.
“Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya kamu pergi ke  sebuah negeri yang sangat subur dan peduduknya hidup makmur,” kata sang  Majikan.
“Negeri manakah yang Tuan maksud?” tanya Sampuraga  penasaran.
“Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya  memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai, karena tanah di sana memiliki kandungan emas,”  jelas sang Majikan. Keterangan sang Majikan itu melambungkan impian Sampuraga.
“Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi  merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu  saya,” kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.
“Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak  yang berbakti” puji sang Majikan.
Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.
“Bu, Raga ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan  yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini,”  kata Sampuraga kepada ibunya.
“Ke manakah engkau akan pergi merantau, anakku?” tanya ibunya.
“Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang  memberitahu Raga bahwa penduduk di sana hidup makmur dan sejahterta, karena  tanahnya sangat subur,” jelas Sampuraga kepada ibunya.
“Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita  tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki  alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak  pernah membahagiakanmu, anakku” kata ibu Sampuraga dengan rasa haru.
“Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika  Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!“ Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.
“Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!” seru  sang ibu.
Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera  mempersiapkan segala sesuatunya.
Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya.  “Bu, Raga berangkat! Jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja  keras!” saran Sampuraga kepada ibunya.
Berhati-hatilah  di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!” harap sang ibu.
Sebelum meninggalkan gubuk reotnya, Sampuraga mencium  tangan sang Ibu yang sangat disayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati  ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak  mata sang Ibu. Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian  merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat, lalu  berkata: “Sudahlah, Anakku! Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi,” kata  sang Ibu.
Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya  seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan  belantara dan melawati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota  Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah  beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota.  Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu  menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera.
Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran  pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang  kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin  bekerja dan jujur. Sudah beberapa kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan  ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha  dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia  tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju.  Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya.
Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan  Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal  paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.
“Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah  engkau aku jadikan menantuku?” tanya sang Majikan.
“Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri  Tuan yang cantik jelita itu,” jawab Sampuraga.
Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara  tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih  disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.
Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar  sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu,  termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya  akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang  kaya-raya.
“Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri  bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin.  Barangkali namanya saja yang sama,” demikian yang terlintas dalam pikiran janda  tua itu.
Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal  secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk  menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah kerajaan  Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, nenek tua itu mendekati keramaian.  Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya  sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu  adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.
Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa  menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya.
Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak  asing di telinganya. “Ah, tidak mungkin itu suara ibu,” pikir Sampuraga sambil  mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat  kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya.
“Sampuraga…Anakku! Ini aku ibumu, Nak!” seru nenek tua  itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga.
Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya,  bagai disambar petir. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan  terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena nenek tua  itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.
“Hei, perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku  sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan  mengacaukan acaraku!”, hardik Sampuraga.
“Sampuragaaa…, Anakku! Aku ini ibumu yang telah  melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali  merindukanmu. Rangkullah Ibu, Nak!” Iba perempuan tua itu.
“Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal  dunia. Algojo! Usir nenek tua ini!” Perintah Sampuraga.
Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali  mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang  menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani  menengahinya.
Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua  orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata,  perempuan tua itu berdoa: “Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah  ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri
Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal  dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun  turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga.  Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara  ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat  penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang  selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.
Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi  kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur  berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua  unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan.  Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara  pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu  kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi  salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.
Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang  mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan  sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat diambil sebagai  pelajaran dari cerita di atas, yaitu: sifat rajin bekerja, sifat jujur dan  sifat durhaka terhadap orang tua. Ketiga sifat tersebut tercermin pada sifat  dan perilaku Sampuraga

0 comments:

Post a Comment

 
© Copyright 2010-2011 MEDAN COMMUNITY All Rights Reserved.
Template Design by Dx Franz ScoundreL | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.